Potret Internet Indonesia 2026: Makin Nyambung, Makin Melek AI
Setiap tahun APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) turun ke lapangan buat ngecek: siapa yang online, ngapain aja mereka di internet, dan apa yang berubah. Ini rangkuman santai dari hasil survei terbarunya — lengkap dengan sumber datanya.
Data di bawah ini diambil dari Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna Internet APJII 2026, digelar 1 Februari–15 Maret 2026 lewat wawancara tatap muka ke 8.700 responden WNI usia 13 tahun ke atas, tersebar proporsional di 38 provinsi (margin of error ±1,1%). Anggap ini semacam "sensus kecil" kebiasaan digital kita — dan hasilnya cukup banyak yang menarik.
Tren Penetrasi: Terus Naik, Meski Pelan
Sejak 2022, angka penetrasi internet Indonesia naik terus tiap tahun — walau kenaikannya makin melambat dibanding lonjakan era pandemi.
Jawa Masih Jadi Motor, Timur Indonesia Ketinggalan
Jawa menyumbang 58,24% dari seluruh pengguna internet nasional dengan penetrasi 85,95% — sementara Maluku & Papua ada di posisi paling bawah, penetrasi 69,74% dan kontribusi cuma 2,94%.
Kenapa Sisanya Masih Belum Online?
Sekitar 18% penduduk Indonesia masih belum terkoneksi. Alasan utamanya bukan cuma soal biaya:
Artinya, tantangan terbesar bukan cuma jaringan atau harga, tapi juga literasi digital — dua alasan teratas soal akses perangkat & cara pakainya menyumbang lebih dari 65% jawaban.
Smartphone Adalah Segalanya
84,31% orang Indonesia mengakses internet lewat smartphone — jauh meninggalkan laptop (9,41%), smart TV/konsol (3,02%), tablet (2,39%), dan desktop (0,85%).
Alasan terbesar orang konek internet: komunikasi & medsos (19,9%), hiburan streaming/musik/game (19,7%), cari info & berita (19,6%), dan belanja/jasa online (18,7%) — hampir seri semua di kisaran 20%.
Seluler: Prabayar Makin Dominan
Di 2026, 93,1% pengguna internet seluler pakai kartu prabayar, cuma 6,9% pascabayar. Selain itu 13,1% orang mengaku cuma andalkan WiFi tanpa kuota seluler sama sekali.
Peta operator juga bergeser. Telkomsel masih di puncak tapi pangsanya turun dari 45,7% ke 37,9%, sementara Indosat Ooredoo Hutchison naik dari 29,3% ke 35,5% dan XL Smart dari 24,8% ke 26,7%.
Internet Rumahan Makin Diminati
Pelanggan internet tetap (fixed broadband) naik dari 38,7% jadi 42,3% — setara 99,5 juta orang dari total pengguna internet. Indihome masih rajanya, dengan pangsa naik dari 43,9% ke 47,3%.
Belanja Online: Shopee & TikTok Shop Berkuasa
Shopee jadi toko online favorit baik laki-laki (46,7%) maupun perempuan (47,3%), diikuti TikTok Shop (28,5% laki-laki, 36,8% perempuan), lalu Tokopedia (14,6% / 8,3%) dan Lazada (7,1% / 5,5%).
Internet makin jadi urat nadi bisnis: 88,8% pelaku usaha bilang usahanya kini bergantung pada internet, naik dari 76,7% tahun lalu.
Kegiatan bisnis online paling umum: komunikasi dengan pelanggan/mitra (32,7%), cari peluang bisnis baru (16,3%), jadi affiliator (14,7%), dan jualan di media sosial/e-commerce (12,7%).
Sisi lain dari ekonomi digital: pinjaman online. Mayoritas (93,4%) belum pernah pakai aplikasi pinjol, tapi 6,6% yang pakai kebanyakan beralasan untuk kebutuhan mendesak (22,8%) dan belanja kebutuhan sehari-hari (18,3%).
Sisi Gelap: Judol, Pinjol, dan Hoax Mengintai
Ditanya soal pernah terpapar konten negatif di media sosial, 70,7% bilang tidak pernah — tapi sisanya cukup mengkhawatirkan:
Soal keamanan data, kebiasaan yang paling banyak dilakukan: pakai kombinasi password yang tidak mudah ditebak (25,9%) dan waspada saat aplikasi minta data pribadi (19,9%). Tapi jujur saja — 52,9% orang tidak tahu atau tidak pernah ganti password sama sekali, dan 30,1% baru ganti kalau merasa terancam diretas.
AI Sudah Masuk Kehidupan Sehari-hari
27,3% masyarakat Indonesia mengaku sudah pernah mengakses AI — dan seperti dugaan, Gen Z paling akrab dengannya.
Fungsinya bermacam-macam: mulai dari bikin konten hiburan (gambar/video generatif), bantu belajar dan riset, sampai jadi asisten kerja sehari-hari. Yang jelas, gap antar generasi masih besar — Gen Z lebih dari 35 kali lebih sering pakai AI dibanding Pre Boomers.
Intinya
- Internet Indonesia hampir tembus 82% penetrasi, tapi kesenjangan wilayah (Jawa vs Indonesia Timur) dan literasi digital masih jadi ganjalan utama.
- Smartphone & kartu prabayar adalah cara orang Indonesia ber-internet — sederhana, murah, fleksibel.
- Ekonomi digital tumbuh (belanja online, bisnis makin bergantung internet), tapi diikuti risiko baru: judol, pinjol ilegal, dan kebiasaan keamanan digital yang masih lemah.
- AI mulai jadi bagian hidup 1 dari 4 orang Indonesia — dan kemungkinan besar akan makin cepat naik tahun depan.
Sumber Data
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna Internet 2026 — Profil Internet Indonesia 2026. Survei lapangan 1 Februari–15 Maret 2026, wawancara tatap muka terhadap 8.700 responden di 38 provinsi, metode multistage random sampling, margin of error ±1,1%.
Info lebih lanjut: survei.apjii.or.id · survei@apjii.or.id